Saya sudah lahir setahun saat kakek dan nenek naik haji. Dan foto di atas diambil sekira persiapan berangkat haji tersebut.
Karena nama nenek hanya 4 huruf, untuk kepentingan paspor diubah menjadi Tahirah. Artinya bersih atau suci. Sedangkan Tuwo berarti hidup dikarenakan saat kecil nenek sakut-sakitan tak dikira hidup–ternyata panjang umur.
Mungkin secara spelling Bugis antara Tuwo dengan Tohirah ada sound mirip-mirip sehingga tak susah melafalkannya.
Nenek disapa Mak Ento. Sampai akhir hayatnya nyaris 100th kami menyapa dengan Mak Ento, Nek Ento atau Nyang Ento.
Nenekku anak dari H Husin Bin Daeng Ambo Baso. Asal Sulawesi Selatan. Sementara kakek, HM Saleh putra dari H Sanusi Bin H Thayyib. Sosok yang wafat di tanah suci dan dimakamkan di Ma’la satu kompleks pemakaman dengan Ummul Mukminin Sayyidina Khadijatul Qubro. Istri Rasulullah SAW. Konglomerawati, ibunda Sayyidina Fatimatul Kubro. Ibu dari para keturunan Rasulullah yang tersebar di seluruh pelosok dunia hingga kini.
Kepada para sedulur yang telah mendahului, ilahinniyah, Alfatihah washallu ‘Alan Nabi. *
