
Kohesi sosial budaya yang dimaksudkan Nuris–sapaan pegiat pantun yang satu ini–dimulai dengan aksi Serumpun Berpantun dengan 16 jam tayang sebagai mendukung usulan WBTB yang dilakukan ATL Indonesia bersama Malaysia dari Rumah Melayu, MABM – ATL Kalimantan Barat. Atas kesamaan visi-misi dalam merawat pantun itulah disepakati perlunya deklarasi Harpandu dan Hartunas yang dioerkuat dengan rekomendasi Seminar nasional tentang perlunya Harpandu dan Hartunas yang digelar di Universitas Tanjungpura dan dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadhiem Makarim.
Kata Nuris, hanya di Indonesia yang punya dua hari raya pantun, yang jatuh pada 16 dan 17 Desember, sejak deklarasi tahun 2023 hingga sekarang.
Dalam kesempatan virtual meeting, Walikota Pontianak Ir H Edi Rusdi Kamtono, MM, MT menyatakan mendukung Harpandu dan Hartunas karena Kita Pontianak memang kental dengan tradisi pantun. Begitupula dengan Gubernur Kalbar H Ria Norsan, SH, MH yang diwakili Kadis Dikbud, bahwa Kalbar dengan luas 1.5x Pulau Jawa beririsan darat langsung dengan negeri serumpun yakni Sarawak-Malaysia dengan Brunei Darussalam dimana perpantunannya saling berpadu. Oleh karena itu Harpandu dan Hartunas menjadi modal sosial bangkitnya sastra lisan di Bumi Kalimantan.
