Oleh: Yusriadi
Geram iya. Kasihan juga iya. Putus asa, entah!
Rasanya itulah gambaran perasaan saya saat menerima beberapa mahasiswa di ruangan dalam beberapa hari ini. Perasaan saya kayaknya sedang campur aduk.
Persoalan bisa dibilang sederhana, bisa juga mendasar dan kompleks. Saya, dalam pekan ini menerima mahasiswa bimbingan di bawah istilah Penasehat Akademik (PA). Mereka minta tanda tangan sebuah daftar -yang disebut kartu, berisi rencana studi.
Nah, seperti biasa saya tak hanya memberikan teken tetapi juga tanya ini itu. Toh, mahasiswa juga jarang yang bertanya. Kalau ada pun, mereka –mahasiswa lain, bertanya soal nilai.
Kesan saya, mereka pura-pura: “Pak, mengapa nilai saya rendah?”
Untuk mahasiswa yang datang saya minta membuat tulisan tentang pencapaian semester lalu. Saya ingin tahu apa yang didapat selama ini. Jika kurang saya bisa menasehati, dan jika sudah ada yang diperoleh atau dicapai, bisa memberi apresiasi atau penguatan. Kayaknya, itulah tugas dosen PA.
Tentang pencapaian, bagi semester awal, pencapaian umum tak jadi soal. Asal ada. Misalnya, kalau mereka katakan selama semester lalu, sudah bisa ini. berubah soal ini, okee….
Tapi bagi mahasiswa semester lanjut, pencapaian harus berkaitan dengan jurusan atau bidang. Bagian ini harus ada.
