Berita

Geram, Kasihan, Serahkan pada Allah

Geram, Kasihan, Serahkan pada Allah

Mereka harus punya pengetahuan -ilmu, dan keterampilan, sesuai jurusan. Jika tidak, saya anggap tidak ada pencapaian.
Nah, di sinilah masalahnya. Beberapa mahasiswa datang dengan tanpa pencapaian. Dari sisi pengetahuan mereka tak nampak. Sebagai contoh, saya minta sebutkan dalil –ayat Quran dan Hadits tentang salah satu bidang dalam jurusan mereka. Semenit, dua menit, mereka mengingatnya. Ada yang tak ingat sama sekali, ada yang ingat separoh.

“Kena balek kampung lupa,” itu alasannya.

“Kemarin, waktu setoran, hafal, Pak,” kata yang lain. Tuh, jawabannya?!

“O, sudah ya. Lulus tak?”

“Lulus”.

“Nilainya?”

Ada yang B, ada yang C.

“Seharusnya… tidak lulus. Saya mau bilang ke dosennya, agar nilai Lulus itu dibatalkan. Sebab, tak ingat apa pun,”

“Untung bukan A. Kalau A, malu. Kalian malu, dosen pun malu. Masa’ nilai A tak tahu apa-apa”.

“Kasihan ‘kan?”

Mereka diam, sambil senyum kecut. Saya setengah bergurau, tetapi sebenarnya geram.

Rasanya, ingin mendrill mereka agar tetap hafal atau ingat atau sedikit menguasai apa yang sudah dipelajari. Tapi, waktu. Teken harus diberikan untuk urusan Daftar Rencana Studi, karena penyerahannya ada batas waktu.