Momen unik terjadi ketika para pedagang, alih-alih pejabat, diberi kesempatan memberikan kata sambutan, menunjukkan bahwa semua manusia sama di hadapan Allah. UAS kemudian memberikan sindiran halus dengan pantun yang mengombinasikan kearifan lokal dengan isu-isu kekinian.
Ketika membahas ciri-ciri perempuan Pontianak yang taat, UAS melontarkan pantun yang sukses mengundang gelak tawa: “Kalau sayang kepada anak, jangan lupa belikan kebab; Kalau mau menengok orang Pontianak, sound system pun pakai jilbab.”
Pesan inti Maulid, kata UAS, adalah meraih ampunan dan rahmat Allah. Tanda taubat yang diterima adalah adanya perubahan perilaku, seperti perbaikan kualitas salat. Beliau menutup segmen ini dengan pantun yang mengingatkan tentang kewajiban utama seorang Muslim:
“Walaupun hidup seribu tahun, kalau tak sembahyang apa gunanya.”
Di akhir ceramah, setelah menguji kemampuan jemaah membaca Surat Yasin dengan cepat, UAS kembali melempar pantun lucu mengenai speed reading Al-Qur’an:
“Kalau tuan pergi ke Madinah, jangan lupa bawa ikan sepat; Sudah lama saya tausiah, inilah baca Yasin yang paling cepat.”
Doa Penutup dan Harapan Barokah
Sebelum menutup, UAS mengingatkan bahwa puncak dari Haul dan Maulid adalah doa yang makbul, terutama dari para keturunan Rasulullah. Beliau juga memohon agar anak-anak muda yang masih berpacaran segera diputuskan hubungannya, agar terhindar dari maksiat, dan segera menikah dengan yang saleh.
