*Syafaruddin Daeng Usman
Melintasi jalur darat dari Belgia meniti waktu sekitar empat jam perjalanan. Dengan kendaraan bus, menuju Negeri Kincir Angin, sepanjang jalan terlihat alam hijau hutan pinus dan batang cemara.
Belanda sebuah negeri tepi lautan besar. Serupa di Pontianak, tak sedikit kanal penyaluran air dari bentangan sungai yang terhampar. Parit, begitu di Pontianak menyebutnya, di sinilah awalnya diadopsi untuk mengendalikan debit air.
Bangsa kulit putih berhidung mancung ini datang ke Pontianak, selain tentu saja untuk invasi kekuasaan berabad lampau, juga membawa pola hidup. Tak heran, sejumlah kuliner khas konon berasal dari sajian keseharian para “Moor Jangkung” itu. Semisal keroket dan semur.
Saya berada di negeri orang kulit putih penyuka rempah ini empat malam lima hari. Waktu yang sangat singkat saya kira untuk memastikan saya akan kembali ke Indonesia dengan membawa pulang banyak dokumen dan arsip sejarah.
Beberapa kota saya datang dan kunjungi. Tentu sekali lebih dulu ke Amsterdam. Lalu Breda, Leiden, Wasenar, Harlem, Den Haag hingga beberapa kota kecil yang mengarah ke Jerman.
Di Breda dan Den Haag tentunya mendatangi museum dunia yang konon tak berhingga banyaknya pusaka Indonesia ada di sini. Jangan katakan tidak untuk barang-barang leluhur Kalimantan Barat. Ada tak sedikit jumlahnya.
