Termasuk berlian berukuran 360 karat, sebesar telor burung merpati, berasal dari Landak abad XVII ada di sini. Pun juga benda bertatah emas dan intan dari Kesultanan Pontianak, tak terlewatkan.

Di Leiden kudapati banyak arsip foto Pontianak masa kolonial. Bukan sedikit jumlahnya peta dan atlas zaman VOC. Pun juga manuskrip lain serta surat yang dibuat beberapa sultan Pontianak kepada gubernur jenderal di Batavia. Semisal dari Syarif Kasim dan Syarif Usman, maupun dari Adinata Krama Umar Kamarudin di Mempawah.
Bukan hanya lembaran lusuh yang tak terbantahkan nilai sejarahnya itu, di Breda kutemui banyak petunjuk masa bahaula Pontianak, Landak dan kekuasaan otonom tradisional pada masanya. Umumnya catatan para pejabat kolonial yang melaporkan tentang keadaan daerah yang diawasinya. Misalnya saja beberapa tanah di Landak yang dicaplok perkongsian Tionghoa selepas matinya Lanfang kongsi.
Harlem, Wasenar, Roterdam hingga Den Haag, sampai juga Breda, Leiden dan Amsterdam dapatlah kudatangi. Dan tentu aku tidak melewatkan menyinggahi tempat di mana dulu Konferensi Meja Bundar, 1949, berlangsung. Dan ketika berdiri di depan Leonardo Hotels, aku membayangkan manakala orang-orang Belanda berada di Pontianak.
