Teringat saat van Hallen memimpin HIS di Jalan Tamar sekarang, terpikir bagaimana PJ Veth membaca Pontianak dengan tertibnya, dan meraba catatan usang AB Faber di Ngabang. Itu sedikit dari yang dapat kulihat di deretan etalase yang ada di Rijk Museum Leiden.
Sebelum meninggalkan Negeri Bekas Penjajah ini beralih ke London, kota tujuanku berikutnya, aku sembari merenung bergumam, “adakah yang mau dan peduli menyelamatkan dokumen dan arsip sejarah di sini?”
Baca Juga:Y U K, M E N U L I S
(Amsterdam, pukul 08.42 pagi, Pontianak pukul 13.45 siang)
