Masyaallah! Bukannya pelajaran yang diingat. Tapi guyonan, kata-kata mutiara, bumbu penyedap waktu kuliah, agar gak ngantuk.
Dan kami tertawa!
Saya haikul yakin. Mahasiswa tetap menyimpan buku-buku dosennya. Seperti saya 30 tahun lalu– menyimpan buku dosen-dosen yang harus saya beli –biar tahan gak jajan. Yang kini masih sangat sangat berguna –minimal idenya. Sebagai mahasiswa, saya bangga dosen saya menulis dan menerbitkan buku.
Buku gak ada basinya!
Dan, anehnya. Dulu, waktu di kelas, banyak yang saya belum dan tidak mengerti penjelasan dosen. Kini, setelah bekerja dan sejajar pengetahuan dan pengalaman dengan mereka –para dosen itu– saya baru mafhum.
“O, ya, ya, ya, ya…! Itu maksudnya!”
Setelah jauh, dan tak ada, kita kadang baru mengerti kata-kata sarat hikmat dan kebijaksanaan, dari seseorang. Dan sekonyong-konyong, kita merindukannya kembali. Cest la vie –itulah hidup.
Saya sering teringat dosen-dosen saya dahulu. Semakin mengagumi mereka. Dan menyesal, mengapa dulu gak mengais habis ilmu mereka? Beberapa dosen saya telah pula gak ada.
Kadang, kita merasa ada, ketika tiada. Dan sebaliknya. Namun, waktu yang iri itu terus berlari. Ia tidak bisa diputar kembali.
Carpe diem! * (Penulis adalah pegiat Literasi Dayak, menetap di Jakarta)
