- Apakah semua rekening dorman benar-benar terkait kejahatan?
- Apakah tidak ada cara yang lebih presisi untuk membedakan rekening mencurigakan dari tabungan warga biasa?
- Apakah solusi ini benar-benar didasarkan pada fakta, atau hanya sekadar reaksi panik yang mengabaikan logika?
Para pakar sepakat bahwa masalah utamanya adalah judi online dan pencucian uang, bukan rekening pasif. Seperti yang diungkapkan oleh SVP LPPI, Trioksa Siahaan, “Bila memang untuk mencegah digunakan dalam kejahatan, maka rekening yang terindikasilah yang perlu diblokir karena ada dasarnya.”
Seperti yang diungkapkan oleh Ismail Fahmi, founder Drone Emprit, kita perlu menerapkan pendekatan First Principles Thinking—metode berpikir yang membongkar masalah hingga ke akar terdalamnya, bukan sekadar business as usual. Dengan kata lain, kita harus berhenti bertanya “apa yang biasanya dilakukan?” dan mulai bertanya “apa yang sebenarnya ingin kita capai?”.
Mengapa Kebijakan Blokir Rekening Dinilai Gagal?
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kebijakan ini sangat tidak tepat sasaran. Jutaan rekening yang diblokir, sebagian besar adalah tabungan pendidikan anak, dana darurat, atau dana haji milik masyarakat kecil. Mereka tidak bersalah, namun harus menanggung beban akibat kebijakan yang tidak cermat.
Di era teknologi informasi yang serba canggih saat ini, ada cara yang jauh lebih efektif untuk memberantas judi online:
