Dr. Marwan bukan nama asing di Gaza. Sebagai salah satu dari hanya dua ahli jantung tersisa di Gaza Utara, ia telah menjadi ujung tombak penanganan pasien kardiovaskular yang meningkat akibat stres, malnutrisi, dan kurangnya layanan medis. Di tengah blokade yang melumpuhkan, keterbatasan obat, dan rumah sakit yang sering kali kehilangan listrik, Dr. Marwan tetap berdiri. Ia pernah berkata dalam sebuah wawancara, “Kami bukan hanya bekerja untuk menyelamatkan nyawa, kami bekerja agar rakyat Palestina tahu mereka masih punya tempat bergantung.”
Kini, tempat bergantung itu telah runtuh. Komunitas medis di Gaza porak poranda. Ribuan pasien jantung tak lagi memiliki dokter spesialis yang memahami kasus mereka. Banyak yang menangis bukan karena kehilangan figur publik, melainkan karena kehilangan seseorang yang pernah memijat dada mereka saat serangan jantung, yang tetap menjahit luka meski peluru masih berdesing di luar.
Kementerian Kesehatan Gaza menyebut kematian Dr. Marwan sebagai “pembunuhan sistematis terhadap layanan medis”. MER-C menyebutnya “pukulan telak terhadap harapan rakyat sipil”. Dan dunia? Dunia menyaksikan, mencatat, lalu mungkin akan melupakannya seperti tragedi-tragedi sebelumnya.
