Kalimat itu menggambarkan suara halilintar yang sangat keras dan mengejutkan. Ada kesan bunyi yang membelah suasana, membuat orang spontan menoleh atau bahkan terkejut.
Namun menariknya, ketika kata “lampang” berdiri sendiri tanpa imbuhan, maknanya justru berbeda. Secara sederhana, ia dapat dipahami sebagai aktivitas memotong sesuatu pada permukaan yang lebar. Dalam pengucapan masyarakat tertentu, khususnya di wilayah Kecamatan Jawai, penyebutannya terdengar seperti terpisah, “la-mpang”.
Perbedaan cara menyebut ini juga menjadi penanda bahwa bahasa daerah tidak pernah benar-benar tunggal. Dalam satu kabupaten saja, logat dan tekanan bunyi bisa berubah-ubah. Kadang dipengaruhi letak geografis, kadang pula akibat percampuran masyarakat tempatan dengan pendatang dari wilayah hulu maupun hilir.
Lalu ada lagi kata “lampong”. Dalam pemahaman masyarakat sehari-hari, “lampong” berarti ringan. Sesuatu yang mudah diangkat atau tidak terasa berat. Kata ini sering dipakai untuk menggambarkan benda yang enteng atau pekerjaan yang terasa mudah dilakukan.
Tetapi keunikan bahasa Melayu Sambas kembali terlihat ketika kata itu diberi imbuhan be- menjadi “belampong”. Maknanya justru berubah mendekati “belampang”, yakni menggambarkan suara yang nyaring atau keras.
Misalnya dalam ungkapan, “Belampong suare marcu.” Artinya suara petasan yang nyaring dan kuat terdengar.
