Di titik ini kita seperti diingatkan bahwa bahasa tidak selalu bekerja dengan logika yang lurus. Kadang satu bunyi bisa berjalan ke banyak arah. Kadang pula dua kata yang berbeda justru bertemu pada makna yang sama ketika diberi imbuhan tertentu.
Barangkali inilah yang membuat bahasa daerah terasa hidup. Ia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga jejak cara masyarakat memandang dunia. Dari bunyi halilintar, suara petasan, hingga cara menyebut sesuatu yang ringan. Semuanya tersimpan dalam pilihan kata yang diwariskan turun-temurun.
Dan mungkin, di situlah indahnya bahasa Melayu Sambas. Ia tidak hanya untuk dipahami, tetapi juga untuk dirasakan.
