Berita

Melawan Virus Radikalisme, Perlu Penguatan bagi Perempuan

Melawan Virus Radikalisme, Perlu Penguatan bagi Perempuan

“Apakah perempuan-perempuan yang terasuki itu adalah pelaku atau korban? Kenapa perempuan, para ibu, mau terlibat dalam gerakan terorisme? Kenapa tren keterlibatan perempuan cenderung mengalami peningkatan? Apa kira-kira yang mereka lakukan selama wabah Covid-19 ini? Dan yang paling penting, bagaimana kita mencegahnya?,” tanya Lubis.

Lubis berharap, pertanyaan itu dapat menjadi bahan diskusi perempuan FKPT. Penguatan perempuan perlu dilakukan karena beberapa pelaku adalah perempuan.

“Salah satu yang ditangkap petugas di Sidotopo bulan lalu, adalah seorang perempuan. Kasus ini menambah daftar keterlibatan perempuan dalam kelompok radikal terorisme. Mulai dari keterlibatan pasif. Putri Munawaroh yang turut menyembunyikan gembong teroris Noor Din M. Top di Mojosongo, sampai dengan keterlibatan aktif Dian Yulia Novi yang siap melakukan “amaliyah” bom bunuh diri dengan target Istana Negara,” ungkap Lubis.

Kejadian ini menandai tranformasi peran perempuan yang sebelumnya “supporter” menjadi “role player” dalam gerakan radikal terorisme, dalam bahasa mereka dari “jihad shogir” ke “jihad kabir”.
Pemahaman yang kurang lebih sama juga mempengaruhi seorang polisi wanita di Maluku Utara. Bripda Nesti Ode Sami, hingga melanggar sumpahnya danmeninggalkan tugas serta tanggung jawabnya demi mempersiapkan diri menjadi “pengantin” untuk aksi bom bunuh diri.