Berita

“Meliput Perang”

“Meliput Perang”
Jurnalis Indo Journalist Programe (IJP) asal Kalbar, Aceh dan Ambon tahun 2002.

Sesampai di tanah Paman Sam saya sujud syukur. Reflektif tasyakur ini diperhatikan sambil lalu saja oleh warga bandara yang lalu lalang. Sementara di dalam hati berkata, “Tidak juga aksi sujud ini dihalangi mereka ya. Berarti mereka tidak apriori dengan Islam.” Begitu kesan pertama saat tiba di USA. Hari pertama Ramadhan.

Meliput Perang.3
Meliput aksi demo di depan White House.

Kami dijemput pria pakai baju lurik. Brewok. Rambut panjang terkuncir ke belakang. Pakai blankon. Maksudnya agar mudah dikenal oleh rombongan yang datang. Dan dulu, kami berkomunikasi hanya via email. Sudah paling canggih menggunakan Short Message Service alias SMS. Namanya Elias Tana Moning. Mahasiswa S3 di Umass.

Perjalanan dari New York menuju Amherst sekira lima jam. Kami berpuasa sesuai waktu setempat. Saat itu short day fasting. Imsak sahur jam 05.00 sementara bukber jam lima sore. Serasa belum apa-apa dibanding di Bumi Khatulistiwa yang sekira 13 jam.

Matahari hanya sebentar saja muncul. Sekira jam 10-an. Selebihnya sudah tak shining lagi. Sejuk di bawah sejuknya Malang, Bandung dan Bogor. Jika menghembuskan napas, seperti ada asap menyertai. Persis di film film Hollywood. Berpuasa rasanya enteng bingits. Hanya diametral dengan tantangan boleh tidak puasa karena musafir hehehe…