Berita

“Meliput Perang”

“Meliput Perang”
Jurnalis Indo Journalist Programe (IJP) asal Kalbar, Aceh dan Ambon tahun 2002.
Meliput Perang.1
Remaja menyemuti patung kepala penemu nuklir Albert Einstein di Memorial Park, Washington DC.

*

Sore waktu bukber kami kerap bersama mahasiswa Timur Tengah. Berbagi Juadah. Terutama kurma. Mereka study di Umass.

Di Paman Sam saya merasakan ukhuwah washatoniah begitu sublim. Muslim dan non muslim menikmati bukber seperti jamuan makan bersama. Asyiiik sekali untuk diliput. Eksentrik. Menarik. Kala bukberan lintas agama masih langka di Bumi Khatulistiwa. Toh sampai kini juga masih langka. Hehehe.

Kami juga taraweh di ruang kelas yang disulap menjadi musholla. Di sana ada kajian-kanjian. Diskusi-diskusi. Termasuk soal perang.

Di hari Jumat pertama di Umass, kami turut Jumatan. Sang khatib dari Afghanistan. Saat itu Islam seolah musuh bebuyutan George Walker Bush akibat peristiwa WTC. World Trade Centre. Peristiwa Nine Elevent.

Di antara liputan WTC dan dampak “perang” saya melihat animo belajar Islam meningkat tajam di Uncle Sam. Itu yang namanya Alquran laris manis di toko-toko buku. Harganya jika diukur dengan rupiah lumayan. 1 jutaan. Tapi mereka beli untuk tahu apakah perang itu ajaran Islam? Ternyata tidak. Islam hanya berperang untuk mempertahankan diri. Sehingga citra Islam didakwahkan dengan pedang salah besar.