teraju.id, Pontianak – Kami meliput konflik. Kami meliput perang! Liputan kudu berimbang agar publik mendapatkan kebenaran, pendidikan dan pencerahan.
Kami meliput konflik berdarah. Laten. Hingga pengusiran kelompok etnik tertentu.
Berkat keinginan meliput balance, saya lolos seleksi untuk program Indo Journalist Programe yang dihelat di Institute for Training and Development yang bermarkas di Amherst, Massachussets, Amerika Serikat. Saat itu tahun 2001. Namun akibat konflik di Negeri Paman Sam berupa World Trade Centre Crash by Plane, program baru berjalan setahun kemudian, 2002. Intinya di sini konflik dan berkecamuk perang, di sana juga konflik, berujung perang.
Perang itu bisa jelas-jelas baku tembak, tapi juga bisa perang dingin berupa perang pemikiran di bidang ekonomi hingga politik.

Kami tiga dari Kalimantan Barat–saat itu, Yasmin Umar Pimred Akcaya Pontianak Post dan Dewi Utami dari Radio Volare. Juga lima dari Aceh masing-masing Murizal Hamzah, Dara Rawanita, Pongi Toweran dan Muhammad Rizal serta Aldin Nainggolan. Berikutnya empat jurnalist dari Ambon terdiri dari Insani Syahbarwati, Daniel Pattipawae, Mochtar Touwe dan Febi Fabiola. Berangkat dari Jakarta menuju Singapore. Sempat transit di Narita-Jepang, kemudian landing di Bandara Jhon F Kennedy, New York.
Sesampai di tanah Paman Sam saya sujud syukur. Reflektif tasyakur ini diperhatikan sambil lalu saja oleh warga bandara yang lalu lalang. Sementara di dalam hati berkata, “Tidak juga aksi sujud ini dihalangi mereka ya. Berarti mereka tidak apriori dengan Islam.” Begitu kesan pertama saat tiba di USA. Hari pertama Ramadhan.

Kami dijemput pria pakai baju lurik. Brewok. Rambut panjang terkuncir ke belakang. Pakai blankon. Maksudnya agar mudah dikenal oleh rombongan yang datang. Dan dulu, kami berkomunikasi hanya via email. Sudah paling canggih menggunakan Short Message Service alias SMS. Namanya Elias Tana Moning. Mahasiswa S3 di Umass.
Perjalanan dari New York menuju Amherst sekira lima jam. Kami berpuasa sesuai waktu setempat. Saat itu short day fasting. Imsak sahur jam 05.00 sementara bukber jam lima sore. Serasa belum apa-apa dibanding di Bumi Khatulistiwa yang sekira 13 jam.
Matahari hanya sebentar saja muncul. Sekira jam 10-an. Selebihnya sudah tak shining lagi. Sejuk di bawah sejuknya Malang, Bandung dan Bogor. Jika menghembuskan napas, seperti ada asap menyertai. Persis di film film Hollywood. Berpuasa rasanya enteng bingits. Hanya diametral dengan tantangan boleh tidak puasa karena musafir hehehe…

*
Sore waktu bukber kami kerap bersama mahasiswa Timur Tengah. Berbagi Juadah. Terutama kurma. Mereka study di Umass.
Di Paman Sam saya merasakan ukhuwah washatoniah begitu sublim. Muslim dan non muslim menikmati bukber seperti jamuan makan bersama. Asyiiik sekali untuk diliput. Eksentrik. Menarik. Kala bukberan lintas agama masih langka di Bumi Khatulistiwa. Toh sampai kini juga masih langka. Hehehe.
Kami juga taraweh di ruang kelas yang disulap menjadi musholla. Di sana ada kajian-kanjian. Diskusi-diskusi. Termasuk soal perang.
Di hari Jumat pertama di Umass, kami turut Jumatan. Sang khatib dari Afghanistan. Saat itu Islam seolah musuh bebuyutan George Walker Bush akibat peristiwa WTC. World Trade Centre. Peristiwa Nine Elevent.
Di antara liputan WTC dan dampak “perang” saya melihat animo belajar Islam meningkat tajam di Uncle Sam. Itu yang namanya Alquran laris manis di toko-toko buku. Harganya jika diukur dengan rupiah lumayan. 1 jutaan. Tapi mereka beli untuk tahu apakah perang itu ajaran Islam? Ternyata tidak. Islam hanya berperang untuk mempertahankan diri. Sehingga citra Islam didakwahkan dengan pedang salah besar.
Kini terjadi perang teluk. Iran vs AS dan Israel. Liputannya? Sama dengan yang kami pelajari. Perlu liputan berimbang. Sebab perang bukan ajaran agama kecuali bertahan.
Semua agama juga begitu. Sehingga perang dinisbatkan pada kepentingan ekonomi dan politik semata-mata. Terutama minyak. Ini kesimpulan yang publik harus tahu. Ia aksioma sejak kita kenal peradaban perang. *
