teraju.id, Pontianak – Oleh Ayah, aku didaftarkan masuk SMP Mujahidin. Padahal saya ngebet pingin masuk SMPN 3 teladan dimana beliau juga pernah tugas mengajar di sana. Seangkatan dengan Ketua PGRI Kalbar cum DPR RI asal Golkar H Syamsumin.

Ternyata masuk SMP Mujahidin tahun 1986 membawa hikmah mendalam. Melalui Masjid Raya Mujahidin sebagai mesjid terbesar provinsi, saya dapat banyak ilmu dan pengalaman. Salah satunya tokoh Muhammadiyah H Umar Ya’cob Lc. Beliau sosok sarjana Timur Tengah pertama yang saya kenal. Jago Bahasa Arab. Memimpin SMP Mujahidin dan SMP Muhammadiyah yang hanya berjarak 500 meter dari bentang jalan arteri utama Kalimantan Barat Jl Jenderal Ahmad Yani. Beliau asal Jawa. Istri Jawa. Anak-anak lahir di Pontianak semua. Rumahnya di kompleks mesjid raya. Hanya beberapa meter dari Kantor Urusan Agama Kecamatan Pontianak Selatan yang dipimpin ayah. Wajar kami macam keluarga. Apalagi ayah dan Pak Umar Ya’cob Lc juga adalah imam tetap Mesjid Raya Mujahidin kala itu.

Tahun 1982 kala saya masih SD, Pak Umar masuk ke kampung kami. Pakai mobil dinas warna putih. Ada sirinenya. Rasanya gagah masuk kampung memenuhi undangan pernikahan bibi satu-satunya, Hj Telaha Binti H Muhammad Sholeh Bin H Sanusi. Kala 1982 itu pula seingat saya ayah dan ibunda naik haji buat pertama kalinya. Serombongan orang kampung termasuk Kepala Kampung H Abdul Ghani B. Pejabat Kades selama Pak Harto berkuasa. Lebih kurang 30 tahun.

Disebabkan H Umar Ya’cob Lc satu-satunya imam yang fasih Bahasa Arab maka di saat tamu Mullah datang berdakwah ke Pontianak tak pelak H Umar Ya’cob sebagai penterjemah. Kala itu bulan suci Ramadhan. Dua Mullah datang dengan gamis dan kolah merah. Kopiah khas Iran.

Seusai salat Isya di waktu kultum, kedua Mullah berdakwah. Pakai Bahasa Arab. Dimulai dengan duet membacakan QS Ar Ra’du. Surah yang kalau dibaca sekarang amat sesuai konteks perang melawan AS dan sekutu-sekutunya. Dimana ada ayat ke-11 berbunyi, “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, jika kaum itu sendiri tidak mau merubahnya.” Saya hapal ayat ini sejak 1980-an asbab uraian kedua Mullah itu dan diterjemahkan oleh H Umar Ya’cob. Ayat yang kala itu menceritakan betapa Iran mampu bertahan dan kuat walaupun mereka disabotase. Sebuah pelajaran amat berharga hingga era millenium ketiga, kini. Bahwa Iran mampu menembak tepat sasaran. Sementara kita masih tertinggal jauh. Yakni membagi sembako dan hak fakir miskin pun masih banyak salah sasaran. Sebuah pelajaran matematis dari ayat suci Alquran. *

Foto bersama H Umar Ya’cob yang menggendong putranya, Aam (Amri) serta juru kunci Mesjid Raya Mujahidin era perdana Saregol Hadi. Saya persis di depan beliau. Lalu bibi yang menikahi H Ali Laupek, ayah menggendong adik bungsu Lina Warda. Dan Abang saya HM Nur Hasan bersama adik Ida Afiati.
Foto lainnya adalah potret Mesjid Raya Mujahidin asli yang diresmikan Presiden Soeharto tahun 1978 dan aktivitas liputan dakwah dan muamalah.