Seusai salat Isya di waktu kultum, kedua Mullah berdakwah. Pakai Bahasa Arab. Dimulai dengan duet membacakan QS Ar Ra’du. Surah yang kalau dibaca sekarang amat sesuai konteks perang melawan AS dan sekutu-sekutunya. Dimana ada ayat ke-11 berbunyi, “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, jika kaum itu sendiri tidak mau merubahnya.” Saya hapal ayat ini sejak 1980-an asbab uraian kedua Mullah itu dan diterjemahkan oleh H Umar Ya’cob. Ayat yang kala itu menceritakan betapa Iran mampu bertahan dan kuat walaupun mereka disabotase. Sebuah pelajaran amat berharga hingga era millenium ketiga, kini. Bahwa Iran mampu menembak tepat sasaran. Sementara kita masih tertinggal jauh. Yakni membagi sembako dan hak fakir miskin pun masih banyak salah sasaran. Sebuah pelajaran matematis dari ayat suci Alquran. *
Foto bersama H Umar Ya’cob yang menggendong putranya, Aam (Amri) serta juru kunci Mesjid Raya Mujahidin era perdana Saregol Hadi. Saya persis di depan beliau. Lalu bibi yang menikahi H Ali Laupek, ayah menggendong adik bungsu Lina Warda. Dan Abang saya HM Nur Hasan bersama adik Ida Afiati.
Foto lainnya adalah potret Mesjid Raya Mujahidin asli yang diresmikan Presiden Soeharto tahun 1978 dan aktivitas liputan dakwah dan muamalah.
