Berita

Menyajikan Cerita untuk Pembaca

Menyajikan Cerita untuk Pembaca

Setelah itu, suasana kembali sunyi. Masing-masing fokus pada tulisannya. Hanya sesekali terdengar suara lain. Amar yang berdialog sendiri, atau Tijah yang mengeset cairan dari hidungnya. Dan Mita yang batuk-batuk dan mendehem.

“Ok, berhenti dahulu. Coba kita lihat paragraf pendahuluan. Kita lihat leadnya,” saya memecahkan suasana.

“Aghhh…” gumaman tak jelas terdengar. Gumam yang membayangkan rasa lega, atau bisa juga mengekspresikan ketidakpuasan.

Lalu, setiap orang membaca leadnya. Beberapa orang menulis dengan lead dialog, kutipan, gambaran suasana dan cerita prilaku. Dimulai dari saya untuk memicu, lalu Zainal yang ada di samping kanan, hingga keliling meja sampai Fanin di sebelah kiri, serta Mita dan Desi yang berada di kursi belakang.

Penceritaan yang dibuat peserta mampu membawa orang yang mendengarkan ikut merasakan suasana dan membayangkan peristiwa. Ada yang tertawa dan tersenyum, ada juga yang cengengesan dan masam karena jadi objek tulisan.

“Sekarang, lanjut, hingga bagian akhir.

Penutup,” saya memberi komando.

Menulis bagian ini tak kalah serunya. Semuanya kembali tekun. Masing-masing berusaha dan seperti berpacu dengan waktu. Hingga akhirnya satu demi satu tulisan diselesaikan. Satu demi satu anggota membaca karyanya.

Karya hari ini akan menjadi saksi dari suasana belajar menulis di ruangan Club. Sekalipun peristiwa sudah berganti mengikuti sirkulasi angin yang berhembus oleh putaran Regence.