in ,

Musim Buah

Oleh: Ambaryani

Pulang kerja, saya ke rumah tetangga sebelah rumah. Hari itu Selasa sore.

Begitu sampai di rumah tetangga saya disuguhi rambutan. Masih fresh. Baru petik, plus dengan tangkai dan semut-semutnya. Masih agak hijau kulitnya. Rasanya asem-asem manis seger.

“Rambutane kiambak mbak?” saya tanya pada tuan rumah.

“Sanes, ngene adikke niku lho mbak”, kata tuan rumah sambil menunjukkan pohon rambutan di seberang parit samping rumahnya.

Saya lihat, banyak pohon buah di pekarangan rumahnya. Di pekarangan rumah saya tinggal lumayan banyak juga. Ada jambu air, jambu bol, kedondong kecil, pepaya, sukun. Semuanya sedang berbuah. Hanya tinggal tunggu waktu petik saja.

Sepulang dari rumah tetangga, tak lama Mbah Soheh datang. Menawarkan kalau di rumahnya ada jambu katanya. Saya diminta ke sana. Hanya saja, sore itu, cuaca tidak bersahabat. Hujan lebat. Tak kesampaian.

Ini berkah kesekian yang saya dapat setelah tugas di kampung. Musim buah, kami juga kebajiran buah. Di dalam kulkas, ada pepaya, jambu biji, jambu lobak. Belum tersentuh. Selalu ada berkah dimana-mana. Alhamdulillah.

Dari sisi yang lain, saya agak prihatin karena buah yang melimpah ini tidak dimanfaatkan maksimal mendukung ekonomi keluarga. Warga kesulitan memasarkannya. (*)

Written by Ambaryani

Ambaryani, Pegawai Pemerintahan Kabupaten Kubu Raya. Lulusan Program Studi Komunikasi STAIN Pontianak. Buku berjudul; 1. Pesona Kubu Raya 2. Kubu 360 adalah buku yang ditulisnya selama menjadi ASN Kabupaten Kubu Raya

Beng dan Imam Ikuti Pelatihan “Social Entreprise” di Bali

Karol atau Lazarus Cagub PDIP?