Mereka tidak ada saat salah satu senior sedang meratapi skripsi yang penuh coretan—’sedang apes’ kalau kata orang-orang yang mengetahui sifat dari dosen pembimbingnya, mengingat matahari sudah hampir mencapai puncak dan masa tenggang revisi semakin dekat—Olivia tanpa basa-basi ikut menolong senior itu. Setelah semua kertas itu berjatuhan dan telah diambil kembali, ia merogoh sebuah buku dari tasnya.
“Ini, Kak, saya ada buku PUEBI,” katanya, dengan senyum setengah khas miliknya. “Tidak usah dikembalikan, Kak, bukunya.”
Senior itu kelimpungan, menawarkan uang yang ada di dompetnya.
Kembali dengan senyum yang kini mencapai kedua matanya, dia berucap lagi, “Tidak apa – apa, Kak. Buat saya yang penting bukunya dipakai.”
Aku tersenyum sendiri mengingat kejadian itu. Debur ombak membuyarkan lamunanku, mengingat Olivia yang asli sedang berada di sebelahku. Duduk di kap mobil dan dengan sabar menanti jawabanku atas pertanyaannya. Pertanyaan yang mungkin kebanyakan orang anggap hanya main – main saja dan tidak serius.
Mereka tidak kenal Olivia.
Dengan senyum, aku menaruh tangan kananku di atas tangan kanannya.
“Boleh,” jawabku. “Habis ini kita mau makan di mana?”
Olivia membalas dengan mengeratkan genggaman tangannya, dan dengan senyum lain yang hampir tumpah dari bibir dan wajahnya.
