Dalam pandangan Dewan Juri, Mayu telah berbuat lebih dari apa yang menjadi kewajibannya sebagai seorang perawat yang ditempatkan di desa terpencil. Mayu bisa saja hanya menjadi perawat, selebihnya beristirahat. Namun, Mayu melakukan tugas lain yang tidak kalah pentingnya: mengembangkan Radio Komunitas dan mengelola Taman Bacaan.
Tidak mudah bagi Dewan Juri untuk membuat keputusan ini. Karena selain tidak satupun dari Dewan Juri yang mengenal Mayu. “Kerja-kerja penting Mayu juga sepi dari publikasi,” kata Azriana, Ketua Komnas Perempuan periode 2015-2019.
Namun, setelah mencari informasi lebih lanjut dan melakukan sejumlah verifikasi, lewat perdebatan yang mencerahkan, Dewan Juri memutuskan untuk memilih Mayu Fentami sebagai Penerima SK Trimurti tahun ini.
“Inisiatif dan dedikasi inilah yang menurut Dewan Juri layak untuk diapresiasi,” ujar Azriana.
Mayu yang aktif ber-sosial media ini meyakini bahwa media menjadi sarana efektif untuk mengantarkan informasi kepada masyarakat Bunut Hilir yang memiliki sejumlah keterbatasan.
Perayaan HUT AJI ke-23 ini digelar dalam sebuah acara malam resepsi di Hotel Aryaduta Jakarta Pusat. Tampak hadir Menkominfo Rudiantara, istri mendiang Munir, Suciwati, serta sejumlah tokoh jurnalis di Indonesia. (Purwanto)

Barakallah Mayu..
Jadi amal jariyah, mengharumkan UMY juga
Barakallah Mayu Fentami.. Bangga menjadi alumni Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang memiliki alumni yang bisa meraih prestasi luar bisa seperti Mayu Fentami.. benar benar unggul dan Islami serta muda mendunia..