Pemakaman di Batu Layang ini sudah tertata dengan apik pula. Tersedia pintu masuk dari alur sungai. Tangga naik terdiri dari bahan kayu belian dikombinasikan dengan turap beton bertulang. Penataan water front city Kota Pontianak memang terus berkembang di sisi kiri dan kanan sungai sebagai maskot Kota Pontianak. Dana yang diserap ratusan miliar, dan untuk mencapai kesempurnaan dibutuhkan triliunan lagi rupiahnya.
Perparkiran kendaraan roda empat juga luas. Tersedia cukup banyak kantin dan istimewa dengan tumpukan batu meteorit yang melayang sekira sejuta tahun silam. Demikian menurut hasil penelitian para fisikawan.
Seusai berziarah di makam sultan yang mendirikan Pontianak pada tahun 1771 tersebut, rombongan kembali bergerak ke keraton dengan menjelajahi panorama sungai. Mereka mengunjungi masjid Jami’ yakni bangunan pertama yang didirikan Sultan Syarif Abdurrachman setelah dia bertolak dari Negeri Galaherang, Mempawah yang dipimpin oleh Habib Husin.
Masjid Jami’ berhadapan dengan Pelabuhan Sheng Hie. Dan di sebelah Sheng Hie ada gereja tua. Hal ini menandakan harmonisasi hidup bertoleransi di Kota Pontianak. Apalagi di tepian Kapuas Indah juga bercokol sebuah kelenteng tua, tak kalah tua dengan sejarah berdirinya Kota Pontianak.
