Berita

Penulis dan Tugas Menjaga Bahasa Ibu

Penulis dan Tugas Menjaga Bahasa Ibu

Sebagai contoh, sekarang ini pada generasi baru tidak tahu nama-nama padi yang pernah ditanam di ladang. Tak tahu nama tumbuhan lain yang menyemak di antara padi. Tak tahu nama tanaman yang sengaja ditanam di sela-sela padi. Tak tahu budaya penyerta menanam, menjaga dan menyukuri hasil panen. Hal ini terjadi karena budaya berladang sudah ditinggalkan di beberapa tempat. Orang tidak berladang karena tidak ada lagi lahan yang digunakan untuk itu. Selain itu, orang tidak berladang karena disibukkan oleh pekerjaan lain.

Ancaman kepunahan sudah sedemikian besar dan mengerikan, bisa diatasi dengan menumbuhkan kecintaan pada bahasa dan menggiatkan dokumentasi dan penulisan dalam bahasa ibu.
Yang menarik, kedua narasumber seperti seiya kata kala mengingatkan tugas pengarang, penulis, mengenai penyelamatan bahasa ibu.

Pengarang dapat memulai penyelamatan dengan membuat karangan dalam bahasa daerah. Melalui kegiatan itu, dokumentasi bentuk bahasa bisa dilakukan dan bisa menjadi corpus data bahasa di kemudian hari.

Memang tidak mudah, tetapi, hal ini bisa dilakukan. Dedy sendiri sudah merintis hal itu. Dia, bersama penulis di Kalbar menerbitkan buku cerpen berbahasa daerah “Roming Kontrak”.

Beni sendiri sudah mencoba dengan metodenya sendiri, Metode Rois, untuk mengembangkan tradisi tulis.

Lalu, kita, apa yang dapat dilakukan dalam situasi itu? (*)