Pertemuan pun berlangsung di Purnama Valley, Sabtu (1/10/16) diikuti Pay Jarot Sujarwo, Pradono dan Hendi, serta Nur Iskandar. Cerita dibuka dengan paparan tergerusnya budaya Islam seperti khatamul quran. Tempo doeloe khatamul quran harus dicapai sebelum seorang anak remaja muslim dikhitan. “Masalah itu hanya akibat saja. Fundamen atau fondasi, atau masalah paling dasarnya adalah redupnya pemikiran akibat sejarah kita dikaburkan. Bahkan ada upaya dihilangkan,” ungkap penulis buku Sepok, Pay Jarot Sujarwo.
Pria yang bergelut dengan Pijar Publishing serta semakin tekun mempelajari Islam ini berkisah tentang Kerajaan Campa sebagai peninggalan Khalifah Usman Bin Affan. Ia bercerita tentang hegemoni Islam sepanjang 1300 tahun sebagai terbesar dalam peradaban umat manusia setelah Persia dan Roma.
“Di sini kita pelajari hegemoni setiap peradaban selalu berupaya menghapuskan sejarah agar manusia dapat dikuasai pemikirannya dari generasi ke generasi. Mereka melakukan pembodohan,” ujarnya seraya menegaskan bahwa akar masalah bukan pertikaian agama, apalagi etnis, melainkan pembodohan dan penghapusan sejarah.
Hal senada diakui pegiat puisi, Pradono. “Kesadaran literasi dan sastra, apakah kaidahnya keislaman atau lain-lainnya (kearifan lokal, red) harus sinergis dan simultan. Tanpa gerakan kebersamaan tak akan sejarah bisa dihidupkan secara objektif dan mutawatir,” tegasnya.
