Berita

Rindu Tadarus

Rindu Tadarus

Dengan menggunakan meja kayu sederhana kami membaca bait demi bait ayat Alquran dengan penuh khusyuk. Guru ngaji kami yang sedari awal menyimak bacaan kami dan membenarkan apabila terdapat kesalahan. Satu buah mike yang dihubungkan ke pengeras suara membuat seluruh warga kampung dapat mendengarkan lantunan Alquran yang kami baca.

Rasanya pada saat itu percaya diri saja, yang penting bacaan kami baik dan tajwidnya benar. Guru ngaji kami lumayan galak. sebenarnya bukan galak, tegas karena kami yang sering kali lupa walaupun sudah diajarkan berulang kali.
Gertakan tangan guru ngaji ke atas meja yang sontak memecah konsentrasi kami yang sedang khusyuk menyimak bacaan teman. Pastinya gertakan tersebut karena banyak sekali bacaan yang salah ataupun kami sibuk bermain tidak menyimak bacaan teman.

Mendekati Maghrib beberapa orang teman tidak mau mendapat giliran. Malu atau takut. Mau tak mau saya yang ambil giliran mengaji terakhir.

Setelah selesai mengaji saya dan adik dengan sisa-sisa tenanga berlari-larian agar pulang ke rumah tepat waktu. Biasanya baru setengah perjalanan adzan sudah berkumandang. Ibu dan bapak sudah menunggu kedatangan kami di depan rumah.

Hal-hal tersebutlah yang membuat saya rindu. Tadarus di masjid, gertakan guru ngaji dan berlari-lari pulang ke rumah. (*)