Oleh: Siti muslikhah
Sudah 10 tahun yang lalu terakhir kali saya tadarus bersama di masjid. Sekarang ini setelah merantau ke Kota Pontianak tak lagi saya temukan tadarusan di masjid dengan berbekalkan Alquran dan buku absensi.
Iya, dulu ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar saya rutin melakukan tadarus di masjid bersama teman-teman dan guru ngaji kami. Buku absensi tanda tangan dari guru ngaji menjadi hal wajib yang harus kami bawa karena sekolah mewajibkan. Sejatinya bukan mewajibkan untuk tadarusan, absensi tarawihlah yang harus kami buat karena setelah selesai puasa nanti akan kami kumpulkan absensi tersebut.
Masih jelas diingatan saya, dulu jarang bahkan tidak pernah saya absen tarawih ataupun tadarus. Padahal jarak dari rumah ke masjid lumayan jauh dan saya menempuhnya dengan jalan kaki. Beruntungnya saya memiliki adik yang bisa menjadi teman saya tadarus.
Tadarus biasanya kami lakukan di sore hari, ba’da asar tepatnya. Setelah selesai melaksanakan salat Asar, kami sudah mengambil posisi masing-masing. Kami duduk dengan membentuk setengah lingkaran tepatnya di depan tempat Imam.
