Untuk itu menjelang peringatan hari jadi Bumi Khatulistiwa ke-250, alumni SMPN 13 dan SMAN 3 Pontianak ini bicara gamblang sebagai warga di mana dia merasakan kontur wilayah ibukota Provinsi Kalbar ini merupakan delta yang dibelah oleh sungai terpanjang di Indonesia bernama Kapuas. Di luar sisi keindahan sungai sebagai urat nadi ekonomi sejak 250 tahun lalu, namun juga selalu mengirimkan ancaman rutin berupa banjir pasang laut maupun hujan deras. Banjir tersebut menyebabkan kerugian yang besar.
Selain tantangan banjir yang bisa merendam Kota Pontianak, mantan Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Trisaksi ini juga menyoroti kemacetan akibat tidak adanya transportasi publik yang memadai. “Menurut saya, kemacetan di jantung kota bukan karena kurangnya jembatan Kapuas, tetapi tidak terbangunnya transportasi publik,” imbuhnya seraya menyerukan Pemkot bersama Pemprov mewujudkan strategi besar (grand strategy) yang memetakan Pontianak aman dari banjir sekaligus macet hingga 20 sampai 30 tahun ke depan.
Selaku wakil rakyat Dapil Kalbar 1 dengan konstituen menyebar di Kota Pontianak hingga ke jalur utara maupun Selatan, Bang Maman mengarahkan “tembakan” bazokanya kepada sesuatu yang signifikan—membangun peradaban menjadi lebih maju.
