Maka panggilan Tuan Guru, rasanya tak berlebihan disandangkan oleh masyarakat kepada beliau. Gelar itu pas dan pantas dengan sosok beliau.
Itu baru dimensi intelektual dan performance saja. Kita belum lagi membahas tentang popularitas TUAN GURU di nusantara yang mampu melampaui artis ibukota, meng-atasi tokoh-tokoh politik, dan pejabat pada level menteri sekalipun.
Bahkan di kawasan negara rumpun melayu se-Asia Tenggara, rasanya tak ada satupun tokoh yang dapat melampui popularitas beliau.
Namun demikian, Tuan Guru UAS tak pernah menunjukan sikap MERASA. Merasa paling pintar, merasa paling berpengaruh, merasa paling terkenal.
Tuan Guru UAS tetap saja sama seperti UAS zaman dahulu. Tetap ramah dengan siapapun, selalu rendah hati, sederhana dan selalu bersikap apa adanya.
Tuan Guru pun selalu berusaha memenuhi undangan dari masyarakat tanpa menimbang jarak dan status kewilayahannya. Mau seribu kilometer kah jaraknya, mau kecamatan sajakah status wilayahnya, semua tak jadi masalah bagi beliau. Beliau selalu berusaha mensatanginya, beliau selalu berusaha memenuhinya. Masyaallah tabarakallah.
**
Foto yang saya posting itu adalah Foto TUAN GURU UAS yang sedang dalam perjalanan ke Sandai, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Beliau ke Sandai untuk memenuhi undangan dari masyarakat di sana. Dalam foto itu tampak TUAN GURU berada di atas speedboat, didampingi oleh Gurunda Ustaz Luqmanulhakim.
**
