Begitu kami sampai, ternyata ramai sekali pejabat, pegawai, dan siswa yang akan mengikuti upacara. Eka sebagai salah satu protokoler pada Upacara ini mengatakan bahwa ada beberapa pejabat dari Malasyia dan ajudannya juga ikut diundang.
Begitu sampai, kami kebingungan mencari barisan, karena masing-masing barisan sudah disediakan plang nama, apalagi kami hanya bersembilan karena Eka harus standby di depan. Tak lama kemudian, panitia beberapa kali mengatakan bahwa mahasiswa KKL IAIN Pontianak dapat berbaris di barisan pegawai BUMN. Setelah kami cari ternyata pegawainya menggunakan kemeja polos rapi warna biru cerah. Aku jadi merasa minder karena kami hanya menggunakan jaket KKL dengan warna jilbab yang tidak sama.
Upacara berjalan dengan khidmat. Terasa sekali haru terutama saat anggota Paskibra mengibarkan sang merah putih dan detik-detik Proklamasi. Saat itu aku mendengar suara seperti meriam, sirine, dan petasan. Rasanya seperti kembali ke masa peperangan, masa dimana para pejuang mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan Indonesia.
Begitu upacara selesai, kami diundang makan bersama para tamu penting dan anggota paskibraka di pasar wisata. Sesuatu yang tidak diduga.
Setelah selesai makan kami langsung diantar ke posko menggunakan mobil polisi. Peringatan Hari Kemerdekaan ini semoga dapat memperkuat nasionalisme masyarakat perbatasan. (*)
