Kini dia setelah merasakan sendiri, menyadari kalau Covid-19 itu nyata. Yang dia khawatirkan adalah anak-anaknya yang bisa dikucilkan oleh teman-temannya atau tetangganya. Anak-anak dititipkan ke ortunya. Suami isolasi mandiri. Katanya, suaminya justru yang terus menerus menangis di rumah.
Sebelumnya dia sekamar dengan empat pasien Covid. Sekamar merasakan batuk semua. Tapi gak semua sesak napas. Gejalanya berbeda-beda. Psikisnya juga berbeda-beda. Ada satu pasien yang nangis terus sepanjang hari.
Teman sekamarku ini datang ke RS saat anosmia Hari ke-5. Lalu, Hari ke-7 sudah bisa mencium aroma kembali, pelan-pelan. Dia mengaku mental turun saat hari pertama tahu positif Covid-19 hingga hari ketiga. Suaminya hanya tes rapid tapi tak bersedia tes Swab karena tak ada gejala. Hasil tes rapid suami tak reaktif, tetapi tatap harus isolasi mandiri.
Teman sekamarku pertama dapat obat sebanyak 13 bungkus. Dia minum 13 butir sekaligus. Langsung muntah mual dan rasanya badan malah tak karuan. “Ini minum obat bukannya enakan malah rasa mau mati,” katanya.
Itulah kenapa sebelum minum obat selalu kuperiksa dulu kandungan, kegunaan, dan efek sampingnya. Apakah cocok dengan kondisi tubuhku. Tiap orang kondisinya berbeda, efek obat juga bisa berbeda.
