Community

I’ll be home for Christmas

I’ll be home for Christmas

‘Betul! Sangat repot! Harus tes PCR. Syukurlah negatif. Harus bermasker sepanjang perjalanan, sedia santizer di saku jaket. Jaga jarak dan tidak lupa menyiapkan face shield. Sungguh melelahkan baik fisik maupun psikis’ responsnya dalam hati. Tentu bukan ini yang terucap.

“Tak apa, Pak. Syukur semua diberi kelancaran. Tiga hari yang lalu saya sempat ragu karena tiba-tiba muncul aturan semua penerbangan menuju Jawa mengharuskan disertai hasil PCR yang negatif paling lama dua hari sebelum keberangkatan. Syukurlah rumah sakit sudah memulai dengan tes itu, kalau tidak harus tunggu 4-5 hari karena harus dikirim ke Jakarta. Dan, tak dapat dipakai. Kadalu warsa” Ucapnya.

“Ibu juga berpikir seperti itu, Mas” Timpal nyonya rumah, Bu Pringgo.

“Pertengahan Oktober lalu, Bapak lupa tanggalnya, ada utusan dari rumah sakit yang terakhir merawat Wie-Wie. Utusan itu menyerahkan HP Wie-Wie” Pak Pringgo ambil napas sejenak.

“Katanya, di dalam HP ini ada catatan harian, berupa rekaman suara, selama ia dirawat. Bapak dan Ibu sudah membukanya. Ada pesan untuk Nak Frans. Malam ini, Bapak ingin, kita semua mendengarkan rekaman itu, persis di malam Natal ini”