Community

I’ll be home for Christmas

I’ll be home for Christmas

“Ketika berangkat, Januari lalu, ia berkata ke Ibu, Natal lalu Wie sendirian di rumah. Tidak ‘dhing’!. Mas Frans dan kawannya ke sini. Wie ingin natal tahun ini kita berkumpul bersama di sini. Timpal Bu Pringgo lagi.

“Setahun yang lalu, jam segini, Ibu dan Bapak persis di Vatikan. Masih tengah hari tanggal 24 di sana” Lanjut Bu Pringgo.

Mereka berlima, Pak Pringgo, Bu Pringgo, dokter Frans, Man dan Min, mengelilingi HP walau tetap menjaga jarak. Syukurlah Man punya inisiatif memasang pengeras suara. Sehingga, rekaman suara Wie manjadi lebih terdengar jelas.

‘Ini hari pertama,

Aku masuk karantina setelah hasil PCR kemarin diketahui positif. Hasil cepat diketahui. Perangkat PCR bantuan pusat sudah datang.

Kamar yang aku tempati baru. Bau catnya membuat aku agak batuk. Rumah ini, entah bangunan apa. Banyak kamar.

Sepi sekali.

Keperluan makan-minum dikirim langsung dari bagian gizi. Tiga kali, dari pagi tadi. Ditambah obat dan madu. Ada kawan yang juga mengirim parcel buah.

Sesunggahnya buah tentu enak, ada kiwi, ada anggur, ada apel. Tetapi sungguh tak ada selera. Aku makan hanya untuk menjaga kekuatan tubuh.
Bapak dan Ibu, kirimi doa, ya. Jangan sedih. Wie masih kuat.

Aku ingin tidur awal. Sudah dua minggu aku was-was. Ternyata terwujud.


Ini hari kedua.