NB: Saya menghimbau agar lebih banyak lagi wartawan melakukan investigasi atas kasus sejarah yang dibelokkan ini. Cecar habis-habisan. Semestinya juga Bang Karni Ilyas berani mengangkat tema ini di 1 Oktober nanti. Mumpung narasumber masih banyak yang hidup seperti Prof Dr Salim di Universitas Pertahanan semasa muda ketika kerja di Majalah Tempo Beliau adalah jurnalis pertama Indonesia yang wawancara langsung dengan Westerling–sosok utama Pemberontakan APRA di Bandung-1950. Juga masih sehat wal afiat Fadli Zon yang jumpa langsung putra kandung Sultan Hamid II di Belanda–Max Yusuf Nico Alkadrie dan Fadli Zon juga bersama Max Nico menyerahkan foto Sultan Hamid di Kedubes Indonesia di Belanda. Masih ada budayawan Betawi Riduan Saidi. Masih ada putri Sang Proklamator Prof Dr Meutia Hatta di mana pemikiran Hatta sangat dekat dengan Hamid yakni bentuk negara Indonesia yang terbaik mestinya adalah federalis–saksikan film Soekarno di mana Hatta menyebut persatuan sebagai persatean saking jengkelnya–kelak Hatta tak tahan dan mengundurkan diri dari posisi Wapresnya Bung Karno. Bahkan Hamingkubuwono pun mengundurkan diri dari Menko Ekuin di masa Soeharto menjadi diktator. Masih banyak narasumber apik dan ciamik untuk Peristiwa Hamid. Saya yakin Refli Harun, Mahfud MD, Mahendra Petrus, Turiman Faturahman Nur, Anshari Dimyati, Prof Dr Andi Hamzah dll akan bersuara lantang……*
Jelang Hari Kesaktian Pancasila–Usulan untuk ILC Bung Karni Ilyas
