Perbedaan pendapat memang fitrah dari Allah, ketika kita menyuarakan perbedaan dan ngotot saling membenarkan keyakinan masing-masing dan menyesatkan yang lain baik antaragama atau sesama agama yang timbul adalah perpecahan. Maka, sebagaimana menurut Munim A. Sirry di pengantarnya dalam buku karangan Fathorrahman Ghufron (2016: 20) perbedaan pada dasarnya adalah potensi kebersamaan untuk mewujudkan persatuan, hal ini tentu disyarati dengan adanya sikap saling menghargai dan mengapresiasi. Lanjutnya, dengan menyadari sikap keragaman atau perbedaan disikapi sebagai titik temu untuk saling mengenal, mengetahui, dan mengisi.
Sewaktu penulis mencermati beberapa artikel terkait tahun baru yang dilaksanakan antaragama dengan segala macam bentuknya, kesemuanya bermuara pada satu hal yaitu memperbaiki masa yang telah berlalu. Oleh karena itu, titik temu kebersamaan untuk persatuan dalam tulisan ini adalah perubahan yang lebih baik dari sebelumnya, dalam tanda kutip perubahan bangsa bukan perubahan akidah beragama. Kita sepakat bahwa masa lalu adalah suatu keadaan yang tak satu orang pun mampu menghampirinya atau mengulangnya, bahkan satu detik pun tidak akan pernah siapapun mampu. Mengingat salah satu pesan Imam Al-Ghazali kepada muridnya bahwa beliau mengatakan, Hal yang paling jauh di dunia ini adalah masa lalu.
