Terompet kelihatannya sudah menjadi ikon tahun baru, karena kemeriahan suara dan intepretasi asyik yang dibawa oleh terompet tersebut bersinergi saling beriringan bersama para penikmat huru hara tahun baru. Beberapa orang rela merogoh kocek dalam dalam menamatkan tahun lama demi menikmati bagian indah dan meriahnya. Tidak lain, inspirasi ini mereka dapatkan dari gagasan bangsa eropa yang menggelar pesta pora di momen seperti ini.
Keberagaman dan kebermaknaan orang dalam memandang tahun baru sesuai kacamata masing-masing. Ada yang menyuarakan pesta pora dengan kemeriahannya, tidak sedikit juga yang lebih memilih untuk melakukan hal-hal yang jauh lebih bermanfaat. Seperti ritual ibadah dan yang lebih bermakna lainnya. Sedikit menyoal di negara Jepang, mengutip dari Qureta.com yang disuratkan oleh Thaufan Malaka, katanya orang-orang Jepang merayakan tahun baru dengan sakral, yaitu berkirim surat yang isinya ucapan selamat tahun baru dan mohon bantuan di tahun ini (tahun yang baru dimasuki). Lanjutnya, siang hari di tahun baru orang Jepang berziarah mengunjungi kuil-kuil. Festival ini kemudian popular dengan nama Hatsumode. Meminjam pernyataan Ian Reader (1991) masih dalam sumber kutipan yang sama, dalam Religion in Contempory Japan, 80 persen orang Jepang terlibat dalam perayaan sakral ini. Antusias mereka untuk memohon doa dan keberuntungan di tahun baru sangat tinggi.
