Temannya juga terpengaruh pada bahasa Abang atau kami. Aril, ketika berinteraksi dengan saya, berumur 3 tahunan, sering membuat saya bingung. Dia hanya tahu bahasa ibu, bahasa Madura. Bahasa Melayu baru sedikit.
Sering, saya harus bertanya pada Mak atau Pak Aril ketika Aril berbicara pada saya. Kami mentertawakan ketidakpahaman saya. Sekarang, Aril sepenuhnya menggunakan bahasa Melayu Pontianak. Saya tidak pernah diajaknya berbahasa Madura. Dia juga tidak berbahasa Madura dengan Wais dan Abang. Hanya logat Maduranya saja yang masih tersisa dan mempengaruhi Abang.
Logat inilah yang ditertawakan Pak Aril. Dia heran Abang berlogat Madura.
Menurutbayangannya seharusnya Abang berlogat standar atau berlogat Melayu. (*)
