Adzan Ashar pun berkomandang sayup sayup dari mesjid tua tak jauh dari gang rumah mereka, tepatnya di depan tembok lintang dua atau jalan Merdeka saat ini.
Suara adzan pun berteriak nyaring bersahutan di segala penjuru kediamannya yang berasal dari beberapa langgar di gang Nurden gang Klenteng, bahkan langgar di seberang parit lintang dan parit bujor.
Namun sang seniman itu tak juga menampakkan bayangan tubuhnya yang tinggi, tegap dan rupawan. Sajian itu tak jua disentuh oleh sang isteri.

Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang telah terjadi mengingat kerabat, kenalan, tetangga se kampung satu demi satu disungkop oleh Jepang. Ada yang sedang sholat, ada yang sedang mengajar, ada yang sedang berkebun, ada yang sedang melakukan pertemuan tersembunyi, ada yang sedang minum kopi baru dua tiga teguk lalu disungkop untuk dibawa ke tempat eksekusi jadilah dikenal sebagai kopi pancong, khas Kalbar.
Ada yang sedang mancing di steheir, ada yang sedang mandi di tepian kopol kampong, ada yang sedang bergerilya ke belah Rimba sungai Jawi seperti tahun sebelumnya sang suami pun melakukan gerilya disana tiada pulang-pulang hingga digelari Wan Achmad Jawi. Banyak lagi kisah, satu persatu para lelaki raib disungkop oleh Jepang.