Apakah mereka para keluarga korban berteriak dan membalas rasa kehilangan kepada bangsa yang melanggar hak hak kemanusiaannya dan bangsa lain yang datang dan mengulurkan tangan untuk bersama membangun kembali kehancuran akibat keserakahan manusia ?
Apakah kami pernah membalas rasa sakit ini kepada saudara saudara kami yang lain?
Apakah kami pernah melanjutkan dendam dan kemarahan kami kepada mereka yang mengaku saudara tetapi menjadi jalan bagi penjajahan Jepang terjadi di Nusantara ini?
Apakah kami pernah berkeluh kesah dengan pemerintah pusat meskipun stigma negatif masih saja disematkan kepada daerah dan diri kami ?
Bahkan dari sejak awal orang tua kami berlapang dada menerima musibah ini sebagai ujian keimanan, tanpa harus mengajarkan dendam kepada keturunannya.
Bahkan anak yang tak pernah melihat sosok ayahnya dari sejak dalam kandungan akibat keganasan tentara Dai Nippon mampu berlapang dada, menyambut kedatangan di kediamannya dan menyambung niat baik generasi baru dari negeri Sakura itu untuk tujuan kemanusiaan di negeri yang diperjuangkan ayah dan para leluhurnya.
