Selepas sang isteri melaksanakan sholat ashar, ibu muda itu pun menyusul sang suami ke kantornya tak seberapa jauh dari rumah petaknya yang sangat sederhana tetapi nyaman untuk ditinggali, ikut serta anak lelaki keempatnya yang berusia empat tahun dan anak perempuan kelimanya yang masih berusia dua tahun dalam gendongannya.
Sesampainya di kantor, sang ibu bergegas menaiki anak tangga teras bangunan. Mereka disambut oleh salah seorang teman sang suami yang langsung mengabari tragedi eksekusi yang dialami oleh pegawai kantor itu.
Ibu itu pun jatuh terpeleset dari anak tangga itu bersama anak perempuan yang bernama Syarifah Seha Alqadrie dan yang masih berada di dalam dekapnya.
Jatuh terduduk hingga ke tanah yang penuh jejak-jejak sepatu laras tentara dan tetesan peluh dan darah anak negeri Katulistiwa.

Sang bocah lelaki itu yang bernama Syarif Hamid Alqadrie segera menggeser posisinya di bawah kolong bangunan tak jauh dari tangga kayu dan posisi ibunya yang terkulai di hamparan tanah.
Dua belas tahun ke atas, para terpelajar, tokoh agama, saudagar, kerabat kesultanan, tokoh masyarakat dan bangsawan habis dibantai untuk suatu rencana pembangunan pangkalan angkatan laut Jepang. Nasib daerah terjajah mengalami nasib yang sama seperti di Serawak dan Labuan, Malaysia juga Manchuria.
Semenjak saat itu, sang ibu harus berjuang membesarkan kelima anaknya dan janin yang ada di dalam rahimnya.