Memori ini yang sudah sepatutnya mengembalikan spirit kita, untuk terus maju membangun Kalbar dari berbagai aspek. Pemikiran itu sudah sejak lama ada dibangun oleh Sultan Hamid II.
Hutan Belantara Nadi Khatulistiwa
Dulu kata sebagian orang, macam mencari jarum di dalam jerami, mencari cara agar Kalbar bisa maju berdiri sejajar Provinsi besar seperti lainnya. Untuk sama dan setara agar keadilan itu dibentangkan sesama anak bangsa. Pontianak Timur, kampung halaman saya. Dia distereotipekan sebagian orang pula, sebagai wilayah yang ‘buruk’, dengan perilaku orang-orangnya yang tak menggambarkan peradaban tua.
Padahal, Pontianak berawal dari sana. Tak mungkin, asal pancang Masjid yang berdiri pertama di Kota ini menghasilkan para pemabuk, pengguna narkoba, pencuri, dan tindakan amoral lainnya, kalau tak dibiarkan oleh sistem yang berantakan? Siapa yang membangun infrastruktur kita, sesudah Sultan “menyerahkan” kedaulatannya itu kepada Pemerintah selanjutnya?
Hulu kabupaten-kabupaten cuma menerima ampas para perusahaan sawit dan lainnya, berbagai cara dilakukan sekadar dapat izin melakukan eksploitasi hasil alam yang ada di sana. Kayu ditebang, hutan lindung diperlakukan tak layak sebagaimana mestinya. Banjir melanda setiap daerah. Alam marah. Bukan karena kita tak mau kearifan lokal itu ada, melainkan karena kehadiran para tangan tak bertanggung jawab. Pembangunan tak terhambat. Bukan karena tuduhan raja-raja kecil di setiap daerah, melainkan semua izin masih banyak berada di pusat kekuasaan.
