Tak ayal, Kalimantan Barat merayap maju membangun potensi sumber dayanya, yang sebetulnya kaya akan ide yang brilian, daya cipta terbaik, dan energi manusia serta alam yang berlimpah ruah. Tinggal remah. Di tengah hutan belantara sebagai jantung dunia, terus berbondong datang para pencari pundi keuntungan dalam sudut nadi khatulistiwa. Itu tidak adil! Dimanakah keadilan, kalau tuan cuma memandang persoalan dari sebelah mata?

Sedangkan untuk maju, baik birokrasi, politik, atau kemajuan pembangunan manusia kita butuh restu dari Pusat-Jakarta. Ini realitas persoalan, yang harus tuntas dijawab dengan kebijakan. Namun, spirit, tak mungkin sejajar dengan kepentingan. Kita tak banyak punya tokoh nasional, kalau tak mampu bertarung di Jakarta. Atau bukan berasal dari kaki yang menginjak tanah berbeda.

Tak serumit seperti contoh dalam kondisi geopolitik dan demografi kita pada hari ini. Hal yang lebih sederhana adalah kemajuan dalam hal infrastruktur, pendidikan dan industri, atau aspek lainnya, belum mampu kita capai secara maksimal. Contoh konkretnya adalah musik. Industri Musik. Sudah banyak kah putra bangsa asal Kalbar sukses dalam Industri Musik di Indonesia? Kalau tak merantau ke Jakarta, anda tak mungkin bisa sukses menembus angka Nasional bila kaki tetap berpijak di kampung halaman!