Arwana contohnya. Grup musik satu-satunya asal Kalbar yang cukup bertahan lama dalam pentas musik nasional. Sejak bertahun lamanya dia butuh menyeberang untuk mendapatkan kualitas recording musik yang mumpuni supaya didengar nyaman oleh pendengar. Mendapatkan produser musik yang mumpuni agar dapat diterima di antara persaingan keras industri musik Indonesia. Tak bisakah dia dikenal baik, dulu atau hingga hari ini, tanpa harus bertandang ke Jakarta? Barangkali tidak.

Arwana, Sungai Tua, dan Kapuas Kita

Di tengah perjalanan kami berjuang mengungkap fakta sejarah Sultan Hamid II dan Lambang Negara, Garuda Pancasila. Kami berjumpa banyak orang hebat dalam perjalanan atau karir hidupnya. Mulai dari ilmuwan cemerlang, politisi berkulitas baik hingga terburuk, seorang budayawan tua renta yang tak lagi dihargai koleganya yang sukses menjabat birokrasi negara, sosiolog dermawan mendermakan ilmunya, anak-anak muda berprestasi tanpa tendensi mengenal uang, sampai musisi-musisi rendah hati, kawan kami membuat konser musik sebagai bentuk hormat kepada Sultan Hamid II.

Menurut saya, musik lahir dari keyakinan seseorang terhadap apa yang dia rasakan. Musik patut disertai rasa, tak mungkin didengar kalau dia hampa. Musik juga sebagai karya yang lahir karena perjuangan, perjuangan perihal apa saja yang patut disampaikan. Musik ada karena proses berpikir manusia akan realitas hidup dan cita-cita. Pun Sastra dan Budaya, dia juga lahir dari rahim pemikiran yang tak mungkin henti, karena semua adalah hasil dari kejujuran. Kami yakin, bahwa perjuangan itu juga mengikutsertakan musik dan sastra di dalamnya.