Bahkan beberapa dari mereka mengakui pernah menembak orangutan sebagai target buruan. Dengan ikut survei dan monitoring, perlahan masyarakat mendapatkan pengetahuan dan pemahaman ang lebih baik tentang pentingnya menjaga hutan sebagai rumah orangutan dan membiarkan orangutan hidup dengan tenang dan aman di habitatnya.
Hasil survei dan monitoring lalu diolah oleh Tim Kampanye yang dikoordinir oleh Bung Jimmy dan diback up oleh Lia, Ismu, Mas Sugeng (almarhum), dan Bung menjadi materi kampanye menarik dan sesedekat mungkin menghubungkannya dengan keseharian masyarakat, terutama generasi muda.
Tim kampanye pernah menggelar Orangutan Camp, di mana siswa dari beberapa sekolah di Koridor Labian-Leboyan diajak berkemah di alam terbuka selama 2-3 hari. Mereka langsung mendapat cerita tentang hutan, orangutan, dan kehidupan mereka sehari-hari. Mereka juga diajak bercerita sambil mewarnai gambar yang masih polos hasil sketsa mendiang Mas Sugeng.
“Hutan adalah tabungan masa depan kami. Tidak boleh seorang pun yang boleh merusak dan mengganggunya, karena itu berarti merusak masa depan kami. Orangutan adalah nenek moyang kami, jadi siapa pun tidak boleh mengambilnya dari hutan, apa lagi membunuhnya,“ cerita Anton, salah seorang siswa yang ikut Orangutan Camp, sambil menunjukkan hasil karya mewarnainya tim WWF. Kedua orangtua Anton berasal dari dayak Iban, yang mempercayai bahwa orangutan adalah leluhur mereka.
