Maka diketiklah “Lain-lain” dan komputer meminta: Isi sendiri jenisnya.
Diketik: Tanah Tuhan. Jawaban komputer: Tidak!
Diketik lagi: Tanah surga. Jawaban komputer: Tidak!
Lagi: Tanah Wakaf: Jawaban komputer: Tidak!
Lagi dan lagi diketik: Tanah sitaan. Jawaban komputer: Tidak!
Dicoba sekali lagi, jangan-jangan ini yang benar:
Tanah sengketa: Jawaban komputer: Tidak!
Tanah kuburan: Jawaban komputer: Tidak!
Tanah warisan: Jawaban komputer: Tidak!
Tanah Terjanji: Tidak ada jawaban. Terdengar “ting”. Seorang profesor yang cerdas menduga, jangan-jangan disuruh mengetik yang ke arah arah itu. Maka diketik:
Tanah air: Jawaban komputer antara Ya/Tidak. Ada bunyi “ting”, dan lampu kuning hijau berkedip-kedip. “Nah…. temuan kita mendekati!” seru para peneliti, girang.
Lalu iseng, seorang profesor yang pernah sekali datang meneliti di Kalimantan, yang sehelai pun tak ada lagi rambut di kepalanya, menghampiri komputer dan mengetik: TANAH ADAT.
Maka semua menjadi takjub. Lampu hijau menyala. Bersamaan dengan itu, muncul di layar komputer jawaban:
YA
Tepuk tangan pun membahana di lab itu.
**
Semacam satir ini diterbitkan dalam kumpulan bahan ketawa “Mati Ketawa ala Dayak”. (Penulis adalah pegiat literasi Dayak, menetap di Jakarta)
