Oleh Masri Sareb Putra
Menjelaskan filosofi, atau esensi, hakikat, tidak mesti menggunakan kata dan kalimat yang mengerutkan dahi. Bisa dengan cerita, sindiran, bahkan anekdot.
Orang tua zaman dahulu bahkan dengan cerita, legenda, dan mitos. Kadang bahkan dengan canda dan gurauan. Tidak jarang, filosofi dinarasikan melalui anekdot.
Bukan pada bahasa atau rumusannya di dalam menyampaikan inti gagasan/ pesan. Melainkan pada sisi komunikatifnya. Bagaimana isi pesan sampai, mudah diingat dan sampai ke khalayak.Mula-mula dari kognitif (pengetahuan, kesadaran), kemudian emotif (merasa/ empati), lalu motorik (menggerakkan) dan mengubah hidup. Anekdot. Begitulah cara kerjanya.
Seperti kisahan singkat yang berikut ini. Tentang Tanah Adat di bumi Borneo.
Salah satu syarat-wajib menjadi seorang penulis adalah jujur menyebutkan sumber, bila itu bukan kisah anonim, atau bukan asli temuannya. Nah, jujur saya menyebut, anekdot ini ciptaan kawan rapat, teman main, sekaligus kawan kuliahku. Namanya: Nico Andasputra. Anekdot ini saya bahasakan-kembali dan kembangkan.
Nico suatu waktu cerita yang bikin saya ngakak. Baiklah saya parafrasakan:
Suatu hari, ilmuwan atas pemintaan sebuah perusahaan raksasa membawa tanah Borneo untuk diteliti di laboratorium sebuah Institut Pertanian top di Jawa. Sesampainya di Lab, tanah sampel dari Borneo pun diteliti jenisnya apa.
