Simon Sinek, penemu konsep Golden Circle, beranggapan bahwa mayoritas pemasar tidak sepenuhnya memahami kenapa konsumen memilih produk yang ditawarkan. Pemasar cenderung menawarkan apa yang mereka harapkan, bukan kenapa konsumen membutuhkannya. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemasar tidak melihat keterkaitan antara produk dengan konsumen.
Untuk mengetahui keterkaitan antara kedua hal tersebut, pemasar dapat menggunakan komponen pada Golden Circle. Hal utama yang bisa dilakukan oleh pemasar adalah menemukan alasan atas apa yang menjadi kebutuhan pasar. Setelah itu, pemasar dapat memikirkan bagaimana mewujudkannya. Sehingga, pada akhirnya pemasar akan mengetahui apa produk yang akan mereka tawarkan.
Selain digunakan untuk identifikasi kebutuhan pasar, Golden Circle juga dapat diterapkan untuk komunikasi dalam kegiatan pemasaran. Beberapa perusahaan besar di dunia telah menerapkan konsep tersebut dan berhasil meraih keunggulan kompetitif di pasaran.
Pada umumnya, ketika membicarakan apa yang sedang dilakukan, bagian otak akan merespon secara analitis. Tapi jika berbicara tentang kenapa dan bagaimana, komunikasi yang terjadi justru berkaitan langsung dengan perasaan dan perilaku manusia secara keseluruhan. Sehingga, hal tersebut dapat mempengaruhi keputusan membeli. Sebab, keputusan membeli kerap didominasi oleh perasaan (emosi). Sedangkan logika, baru berjalan ketika produk sudah dibeli.
