Tanpa mengucap apa pun, pramugari itu menerima tasnya serta membawanya ke kursi 14C. Karena berada tidak jauh dari telinga, saya mendengar apa yang diucapkan penumpang itu, dalam bahasa Inggris pabrikan.
“Aku tak mau duduk di dekat orang dekil. Bau! Tidak level. Carikan tempat lain!”
“Maaf, Nona” kata si pramugari tetap dalam bahasa Indonesia. “Semua kursi sudah terisi”
“Kelas bisnis ada?!”
“Tetapi, tiket Nona kelas ekonomi” Jawab si pramugari.
“Aku tak mau duduk! Biar berdiri saja!” ucap si nyonya.
“Baik, aku lapor kapten dulu, Nona” Tutur si pramugari tetap hormat dan santun. Ia pun kembali ke depan, bergegas menuju ruang pilot.
Si nona itu tetap berdiri di lorong. Berulang kali ia mengibaskan tangannya yang diangkat ke atas tinggi. Ia sedang mengepaskan, walau tidak perlu, sederet gelang emas yang bergemerincingan di lengan kanan.
Beberapa menit kemudian terdengar suara bariton pilot,
“Selamat pagi para penumpang semua. Mohon maaf atas kejadian ini. Dalam posisi darurat, saya kapten Pilot Prawiro, memutuskan untuk menggunakan satu kursi cadangan di kelas bisnis. Mohon sabar sejanak, pramugari Risti akan segera mengaturnya. Terima kasih!”
Pramugari Risti berjalan menuju ke tempat tadi. Si nona mulai mengambil tasnya sembari tersenyum lebar dan siap melangkah ke arah depan.
