Hampir dua troli belanjaannya. Sambil menunggu kasir menghitung harga, ia memperhatikan seorang anak lelaki yang kurang lebih seumur anak muridnya, kelas dua SD, di kasir sebelah.
“Dik, Kakak kira uangmu tidak cukup untuk membayar boneka ini. Sangat mahal. Coba lihat harga yang tergantung itu!” Kata kasir sambil menggoyang-goyangkan celengan plastik milik anak itu.
“Coba, kau hitung dulu uang tabunganmu itu!” lanjutnya.
Dengan kecewa anak itu mundur, ke luar dari antrian menuju ujung lorong. Dengan hati-hati ia menerawangkan celengan di bawab lampu.
Tak lama kemudian Pak guru Loman sudah berdiri di samping anak itu, sambil bertanya,
“Kau sedang mengintai apa, Nak? Ada binatangkah di celengan itu?”
“Bukan, Pak!” Jawab anak itu, tanpa menoleh.
“Lalu apa yang kau lihat?”
“Coba lihatkan! Apakah betul uang ini tak cukup untuk membeli boneka ini?” sambung si anak.
“Coba Bapak lihat harganya, Nak?”
“Oh dua bulan gajiku” Bisiknya dalam hati. Secara diam-diam Pak guru Loman memasukkan sejumlah uang ke dalam celengan anak itu, sambil berkata,
“Ayo kita buka. Kita hitung lagi, ya”
Mata anak itu langsung bersinar, sambil berteriak.
